BTS "ARIRANG" dan Perdebatan tentang Jati Diri: Benarkah Mereka Berubah?
Pada 20 Maret 2026, BTS telah resmi merilis album studio kelima mereka yang bertajuk ARIRANG. Album ini merupakan grand comeback mereka setelah hampir empat tahun hiatus karena wajib militer.
Saat mendengar pertama kali judul dari albumnya aku merasa familiar. Aku teringat mereka pernah menampilkan lagu ini beberapa tahun silam disebuah festival musik tepatnya di KCON France 2016. Lagu "Arirang" versi BTS saat itu hanya ditampilkan saja, namun tidak dirilis sebagai single resmi di platform musik. Siapa sangka bertahun-tahun kemudian, nama ARIRANG justru datang sebagai representasi comeback besar mereka dan disaat yang bersamaan malah menuai perdebatan tentang jati diri. Tapi kenapa?
Identitas "ARIRANG": Lebih dari Sekadar Judul
Dalam dokumenter BTS: The Return dari Netflix, terungkap kalau inspirasi utama konsep album ini berasal dari penemuan arsip audio di Washington D.C. Berupa rekaman lagu "Arirang" tahun 1896 pada Wax Cylinder yang dinyanyikan oleh tujuh pemuda Korea. Penemuan ini seperti representasi simbol budaya dan juga refleksi bagi BTS. Mereka seolah melihat diri mereka dalam kisah itu, dimana tujuh pria Korea yang membawa nama bangsanya ke panggung dunia, namun tetap menyimpan rasa rindu dengan akar mereka.
Jadi bisa dibilang, ARIRANG ini sebenarnya seperti lagu nasional warga Korea. Dia juga punya banyak versi, tapi tema utamanya hampir sama seperti perpisahan, kerinduan, kehilangan, harapan, dan ketahanan. Kalau BTS sendiri mendefinisikan ARIRANG itu sebagai "Lagu Cinta", yang kemudian implementasi sample lagunya bisa kita dengar melalui lagu "Body to Body".
Sementara itu, hal lain yang menarik adalah “No. 29”, ini semacam interlude dengan durasi singkat yang menampilkan dentangan megah Lonceng Raja Seongdeok yang merupakan simbol bersejarah dan diakui sebagai Harta Nasional Korea Selatan.
Masih dari dokumenternya, ada juga dijelaskan bahwa Arirang mewakili perpaduan antara han dan heung yang berarti kesedihan sekaligus semangat. Rasanya seperti paralel dengan perjalanan BTS sendiri, dimana mereka sempat berpisah karena wajib militer, mendapatkan banyak tekanan dan ekspektasi, tapi pada akhirnya mereka memilih kembali bersama.
No matter how much BTS might evolve with our sound at our core we are still just a group of kids from Korea. That's never gonna change
Begitu kata-kata RM dalam dokumenter. Hingga saat ini, BTS sudah berkembang jauh. Dari yang awalnya hip hop idol group, perlahan menaiki tangga lalu menjadi artis global, berkolaborasi dengan produser barat dan menembus pasar musik terbesar dunia. Tapi lewat pernyataan ini, RM menegaskan bahwa sebesar apa pun evolusi musik mereka, identitas dasar mereka tidak berubah. Mereka itu tetap tujuh anak muda Korea yang membawa kisah dan budaya mereka sendiri.
BTS Kehilangan Jati Diri?
Setiap kali BTS merilis musik baru, pasti selalu ada aja perdebatan yang rasanya nggak akan pernah hilang. Banyak orang, bahkan sebagian ARMY sendiri, sering bilang bahwa mereka kangen BTS yang dulu. BTS dengan nuansa hip hopnya, nuansa youth, era hyyh (The Most Beautiful Moment in Life), era love yourself dan macam-macam berdasarkarn opini personalnya.
Komentar seperti “kangen BTS yang dulu”, “aku lebih suka lagu-lagu yang dulu” atau "BTS udah berubah ya" sering muncul setiap kali arah musik mereka berkembang. Dan sebenarnya, perasaan itu cukup bisa dimengerti. Musik lama BTS menurutku memang punya karakter dan konsep yang sangat khas, unik dan kuat. Tapi pertanyaannya adalah, apakah berubah itu berarti kehilangan jati diri?
Menurutku, nggak sesimple itu.
Justru salah satu hal paling manusiawi dari BTS adalah fakta bahwa mereka terus berkembang. Mereka tidak berhenti di satu versi diri mereka cuma untuk memenuhi nostalgia semata. Yang awalnya dari hip hop, mereka kemudian tumbuh dan mengeksplorasi tema masa muda, kesehatan mental, pencarian identitas, hingga kini ARIRANG yang terasa seperti refleksi mendalam tentang akar budaya dan perjalanan hidup mereka.
Kalau BTS terus membuat musik yang sama seperti tahun 2013, mungkin sebagian orang akan merasa nyaman. Tapi apakah itu bakal terasa honest? Bukannya manusia memang pasti berubah ya?
ARIRANG terasa menarik karena album ini seperti menjawab semua kritik-kririk itu. Di album ini BTS menghadirkan kembali nuansa hip hop dan identitas Korea yang begitu kuat. Mereka tidak sekedar mencoba menjadi versi lama diri mereka, tapi juga berdamai darinya sambil menerima siapa mereka di era sekarang.
Di situlah letak kekuatan dari album ini. BTS bukannya kembali menjadi “BTS yang dulu” Mereka kembali sebagai BTS yang mengingat akar mereka hanya saja kali ini dengan versi yang lebih dewasa dari sebelumnya.
Jadi ungkapan orang-orang soal mereka kangen BTS lama menurutku bukan cuma kangen soal musiknya. Sebenarnya mereka juga kangen perasaan mereka sendiri saat pertama kali menemukan BTS saat itu, emosi mereka, dan pengalaman awal bisa jadi seorang fans. Jadi intinya yang dikangenin itu bukan cuma BTS dan musiknya saja, tetapi versi diri kita sendiri di masa itu.
Makanya kalau ada pro kontra terhadap ARIRANG ya wajar saja. Sebagian orang melihatnya sebagai kembalinya BTS ke akar mereka, sementara yang lainnya tetap merasa ada sesuatu dari masa lalu yang tidak bisa diulang. Dan mungkin itu memang benar. Tapi ya, tidak semua hal dari masa lalu harus diulang persis sama kan.
Jadi apakah BTS kehilangan jati dirinya? Menurutku tidak. Malah sebaliknya, mereka menunjukkan bahwa jati diri bukan tentang terdengar atau terlihat sama seterusnya, tapi tentang tetap mengenali siapa diri mereka bahkan ketika mereka berubah sekalipun.
Mereka sekarang bukan lagi "anak-anak" yang sama seperti saat debut. Dan itu bukan berarti kehilangan tapi bertumbuh.
Pada akhirnya, mungkin kita memang akan selalu menyimpan tempat spesial untuk "BTS yang dulu". Tapi bukan berarti BTS yang sekarang kurang autentik. Mereka yang sekarang adalah hasil dari seluruh perjalanan panjang mereka.
Terimakasih sudah meluangkan waktu membaca ini. Apapun era BTS yang kita suka, semoga musik mereka akan selalu jadi tempat untuk kembali.
Reviewed by Pita
on
April 29, 2026
Rating:



Tidak ada komentar