Review Drama Summer Strike: Berani Untuk "Mogok Hidup"
Aku baru aja namatin another drama slice of life yang punya vibes healing, judulnya Summer Strike. Cocok buat kalian yang merasa kayak pingin berhenti dari rutinitas yang sumuk, untuk yang mungkin capek dengan kerjaan dan tekanan sosial. Ini bisa kalian jadiin watchlist kalau lagi butuh tontonan yang santai.
Bagiku drama ini terasa unik karena memiliki perbedaan dibandingkan drakor-drakor healing lainnya. Keunikannya adalah karena drakor ini juga dibumbui sedikit dengan misteri dan thriller. Walaupun begitu, drakor ini masih kategori drama yang ringan kok.
Sebelum kita bahas lebih dalam, yuk cek dulu detail dramanya!
- Judul: Summer Strike
- Tahun Rilis: 2022
- Sutradara: Lee Yoon Jung & Hong Moon Pyo
- Penulis Skenario: Hong Moon Pyo & Lee Yoon jung (Diadaptasi dari Webtoon karya Joo Young Hyun)
- Jumlah Episode: 12 Episode
- Durasi: ±50 menit per episode
- Genre: Slice of Life, Melodrama, Romance, Mistery dan Thriller
- Pemeran Utama: Kim Seolhyun (Lee Yeo Reum) & Im Si Wan (An Dae Beom)
Sinopsis
Drama ini merupakan adaptasi dari Webtoon populer berjudul I Don't Feel Like Doing Anything yang menceritakan tentang Lee Yeo Reum, seorang wanita yang dicampakkan pacarnya dan kehilangan ibunya karena kecelakaan dalam waktu berdekatan. Disisi lain dia juga menghadapi banyak tekanan oleh bos dan kolega ditempat kerjanya. Merasa lelah dengan kehidupannya di kota, Yeo Reum kemudian memutuskan untuk berhenti bekerja dan pindah ke sebuah desa kecil bernama Angok.
Di sana, ia bertekad untuk tidak melakukan apa-apa dan ingin hidup seminimal mungkin. Di desa ini juga ia kemudian bertemu dengan An Dae Beom, seorang pustakawan dengan sifat pendiam yang juga memiliki luka atau trauma dimasa lalunya. Bersama-sama, mereka belajar menemukan kembali jati diri dan kedamaian di tengah desa yang apa adanya.
Berani untuk "Mogok Hidup"
Lee Yeo Reum, seorang perempuan muda yang memutuskan untuk melakukan "life strike" atau mogok hidup. Dia berhenti kerja dan pindah ke sebuah desa kecil bernama Angok.
Yeo Reum ini perginya benar-benar yang ala kadarnya aja. Dia hanya membawa beberapa pakaian simple untuk sehari-hari, laptop dan juga handphone. Dia bahkan baru mencari tempat tinggal setelah tiba disana. Bisa dibilang dia modal nekat dan nggak punya sama sekali persiapan yang matang. Disana dia kemudian menyewa sebuah gedung semacam ruko yang dulunya adalah tempat bermain biliard terbengkalai. Kalau dilihat gedung itu punya vibes horor, ruangan yang luas dengan satu buah sofa bekas dialamnya, tidak ada lampu, penuh dengan sarang laba-laba dan debu. Dia bahkan ditakut-takuti oleh anak pemilik gedung kalau dulu pernah ada yang meninggal disana. Tapi Yeo Reum tampaknya tidak mengkhawatirkan hal itu.
Aku merasa takjub dengan keberaniannya saat itu, karena aku sendiri kayaknya nggak seberani itu deh. Masalahnya, itu adalah sebuah gedung lama dengan 3 lantai dan cuma dia seorang yang tinggal, lalu fakta tentang pintu-pintunya gak dikunci jadi siapapun bisa keluar masuk kesana. Dari segi keamanan sebenarnya itu enggak banget sih.
Selanjutnya soal rutinitas Yeo Reum saat tinggal di desa Angok jadi berubah total. Kalau dulu harinya diatur sama pekerjaan dan berangkat dengan kereta yang padat, kini Yeo Reum hanya menghabiskan waktunya di perpustakaan desa. Dia datang untuk membaca dengan tenang tanpa perlu merasa bersalah karena membuang waktu.
Yeo reum ini juga suka banget minum alkohol sendirian di siang hari. Bagi banyak orang, hidupnya dianggap lagi berantakan. Tapi bagi Yeo reum, itu kayak merayakan kebebasannya dari ocehan bos, nggak harus berpura-pura sibuk lagi dan nggak harus menyenangkan siapa pun.
Di momen-momen seperti itu, Yeo Reum kelihatan damai.
Disisi lain ada An Dae-beom yang punya alasan yang jauh lebih kelam. Jujur, pas tahu latar belakangnya, aku jadi paham kenapa dia yang jenius itu malah milih jadi pustakawan di desa terpencil.
Dae Beom ini seorang jenius matematika, yang berhasil masuk universitas di usia 17 tahun dan jadi peneliti muda di kampusnya. Terlepas dari jeniusnya, dia sebenarnya lagi hancur di dalam. Matematika buat dia itu bukan cuma soal angka, tapi trauma. Kakak perempuannya yang juga jenius meninggal secara tragis di gedung biliard (iya, gedung yang ditinggali Yeo Reum), dan itu bikin dia merasa kepintarannya malah membawa sial.
Puncaknya adalah saat dia merasa cuma dijadikan "mesin" sama profesor universitasnya. Dia muak karena cuma dimanfaatin demi ambisi profesor itu. Dia pun juga memutuskan buat "mogok" dari dunia yang terus-terusan menekan mentalnya.
Jadi, pas dia balik ke Angok dan milih hidup sederhana, itu bukan karena dia malas atau menyia-nyiakan bakat. Dia itu lagi berusaha menyelamatkan kewarasannya. Dia lebih milih hidup jadi orang biasa dan merasa damai daripada harus balik ke Seoul.
Chemistry Hangat Dua Introvert
Kalau bahas hubungan Yeo Reum dan Dae Beom, jujur aja, ini tuh tipe hubungan yang tenang banget, sampai kadang aku suka gemes haha. Sama kayak cara Yeo Reum pindah ke Angok yang cuma bawa baju seadanya dan nekat tinggal di gedung biliard horor, pendekatannya ke Dae Beom juga sederhana banget.
Aku suka pas bagian pertama kali mereka bertemu. Dae Beom ini tipenya pendiam dan pemalu. Saking diam dan malunya, dia hampir gak ngomong sama sekali di awal dan cuma pakai bahasa isyarat atau nulis di kertas tiap ketemu Yeo Reum. Menurutku disini Dae Beom kocak sih.
Terus pas momen dia yang auto lari kenceng banget karena panik pas dengar Yeo Reum masuk rumah sakit walau sebenarnya itu Bom. Dari situ kelihatan banget kalau Yeo Reum udah jadi pusat dunianya.
Dae Beom itu tipe cowok yang love language nya nggak lewat kata-kata manis, tapi lewat tindakan alias act of service. Kayak pas Dae Beom selalu jagain Yeo Reom tiap dia mabuk karena minum disiang hari itu. Dae Beom itu nggak menghakimi kayak warga lainnya, dia malah sabar banget jagain Yeo Reum pas lagi mode reog.
Yang paling terlihat keren pas dia bayarin biaya rumah sakit Bom diam-diam. Yeo Reum udah nekat mau pakai uang jaminan sewa gedung biliardnya buat biaya rumah sakit, yang artinya dia udah siap pindah dari Angok. Tapi Dae-beom udah bergerak lebih cepat. Dia jual hasil riset matematikanya, dunia yang sebenarnya paling dia benci karena bikin trauma. Dia nggak mau Yeo Reum pergi dari Angok, dan dia mau Yeo Reum tetap punya "rumah" disana.
Enggak cuma itu aja. Ada juga momen soal sepatu lari. Awalnya kan Yeo Reum diajak lari pagi terus sama Dae Beom, tapi suatu hari Yeo Reum lagi merasa capek dan mager. Akhirnya dia bohong bilang kalau sepatunya sobek biar punya alasan nggak lari lagi. Eh si Dae Beom yang polos malah beneran percaya. Dia diam-diam mengukur jejak kaki Yeo Reum dan membelikan sepatu baru supaya mereka bisa lari bareng lagi.
Chemistry mereka itu slow burn banget, tapi justru itu yang bikin tiap interaksi kecil mereka terasa berharga buat diikutin.
Bukan Sekadar Drama Healing
Nah ini dia bagian yang bikin Summer Strike beda dari drama healing kebanyakan. Awalnya aku kira drama ini cuma bakal fokus ke Yeo Reum yang santai-santai. Tapi ternyata, ada sisi gelapnya.
Aku sebenarnya kesel sama sikap beberapa orang di desa Angok. Warga yang ada disana gak semua bersikap ramah, tapi malah sering mempersulit Yeo Reum. Aku jadi rada kasian, padahal niatnya datang kesana buat healing. Tapi ini kayak ngasik tau dimanapun kita berpijak sebenarnya nggak akan luput dari drama-drama kehidupan. Jadi tergantung dari bagaimana kita menyikapinya.
Ada momen gong soal desa ini, tentang gedung biliard yang ditinggali Yeo Reum. Ternyata gedung itu memang punya masa lalu yang kelam, jadi apa yang dibilang anak pemilik gedung itu bukan sekedar buat nakut-nakutin Yeo Reum. Dulu memang ada kasus kematian tragis yang terjadi di sana. Dan apesnya, misteri itu pelan-pelan mulai muncul lagi ke permukaan pas Yeo Reum tinggal di sana.
Ada elemen thriller tipis-tipis yang diselipkan, mulai dari tulisan dinding yang menyeramkan sampai sosok misterius yang seolah mengawasi Yeo Reum terus. Mirisnya kasus masa lalu itu juga ada hubungannya sama trauma yang dialami Dae Beom.
Jujur aja, perpaduan antara genre slice of life yang super santai sama misteri pembunuhan ini sempat bikin aku mikir, "Eh, kok tiba-tiba gini?" Tapi transisinya nggak terkesan dipaksakan juga. Misteri ini malah bikin aku jadi makin peduli sama karakter-karakter di dalamnya, karena ternyata hampir semua warga desa punya rahasia dan luka masing-masing.
Jadi, buat kalian yang mikir drama ini bakal ngebosenin karena alurnya lambat, tenang aja. Ada teka-teki yang bakal bikin kalian terus penasaran sampai episode terakhir. Bagiku, bumbu thriller ini justru jadi pelengkap yang pas, biar ceritanya nggak cuma datar-datar saja.
Kesimpulan
Setelah tamat nonton Summer Strike, aku merasa drama ini tuh bener-bener kayak comfort food. Melihat perjalanan Yeo Reum dari seorang karyawan yang burnout sampai akhirnya bisa berani hidup di gedung biliar horor dan menemukan kebahagiaan dari hal-hal sepele, itu bikin aku mikir ulang tentang hidupku sendiri. Mungkin kita nggak semuanya bisa senekat Yeo Reum yang langsung resign dan pindah ke desa tanpa rencana, tapi seenggaknya kita bisa belajar satu hal kalau nggak apa-apa banget buat berhenti sebentar kalau memang udah nggak kuat.
Aku juga suka bagian akhir, soal konsep kebahagian bagi Yeo Reum.
Kebahagian, kondisi dimana kita tidak kekurangan apapun
Pesan ini nampol banget buat kita yang sering merasa nggak bahagia hanya karena pingin menambahkan sesuatu yang "lebih" di dalam hidup, melainkan soal mengurangi rasa "kurang" di dalam hati. Selama kita merasa cukup dengan apa yang ada sekarang, ya itulah kebahagiaan yang sebenarnya.
Gimana menurut kalian? Ada yang jadi pengen mogok kerja juga gara-gara nonton ini?
Reviewed by Puspita Murdani
on
Mei 01, 2026
Rating:






Tidak ada komentar