Latest

Aku Merasa Terlalu Dipahami oleh My Liberation Notes

Pernah nggak nonton drama atau film yang relate banget sama diri sendiri sampai rasanya bikin sesak? Ada perasaan nggak nyaman seolah ketahuan lagi ada di fase itu, tapi sekaligus bikin tenang karena merasa kayak dipahami banget? Bagiku My Liberation Notes adalah tontonan itu. 

Aku pertama kali menonton drama ini sekitar satu tahun lalu. Tapi memutuskan untuk rewatch lagi dan rasanya agak berbeda. Entah karena aku sudah bertambah dewasa, atau karena sekarang aku lebih memahami rasa lelah menjadi manusia? yang jelas, kali kedua menonton drama ini rasanya jauh lebih emosional.

Jujur, pas pertama kali nonton aku sempat stuck di dua episode pertama karena merasa ini drama kok lemot banget ya? haha. Misalnya saja pas adegan makan atau memanen sayur di ladang. Aku bahkan merasa ini scene-scene yang gak begitu berarti, maksudnya kenapa harus ditampilkan selama itu tanpa dialog? Tapi setelah nonton untuk kedua kalinya, aku malah jadi begitu menikmati detail-detail itu dan merasa  segala yang ditampilkan memang punya artinya.

Poster drama My Liberation Notes

Drama ini sebenarnya sederhana banget. Nggak banyak konflik besar, nggak banyak adegan dramatis berlebihan juga. Sebagian besar episodenya menunjukan kehidupan monoton manusia dewasa, seperti perjalanan berangkat-pulang kerja, lalu makan bersama keluarga. Tapi justru dari kesederhanaan itu yang bikin drama ini rasanya relate banget sama kehidupan nyata.

My Liberation Notes bukan drama yang mencoba untuk menjadi drama yang "seru banget". Drama ini memang cuma memperlihatkan bagaimana rasanya hidup sebagai orang dewasa yang lelah, kesepian, bingung, dan perlahan kehilangan semangat hidup.

Yang paling menyakitkan dari drama ini adalah karena semua masalah para karakternya terasa sangat umum. Mereka bisa dibilang hidupnya nggak miskin banget, nggak yang mengalami tragedi besar di kesehariannya, tapi mereka juga nggak bahagia. Aku yakin banyak orang merasa hidupnya juga kayak gitu. Yang menjalani hari demi harinya tanpa benar-benar merasa "hidup".

                                                                                 

Yeom Mi Jeong dan Perasaan Kosong

Dari semua karakter di drama ini, Yeom Mi Jeong adalah karakter yang paling membekas untukku. Kalau aku adalah sebuah karakter maka itu adalah Yeom Mi Jeong, dan sepertinya bukan aku saja yang merasa se relate itu? Menjalani hari dengan rutinitas seperti bangun pagi, pergi kerja, pulang malam, makan, tidur, lalu mengulangnya lagi besok. Memang nggak ada yang salah, tapi hal-hal itu juga nggak membuatnya merasa bahagia. Rasanya cuma seperti sudah terlalu lama hidup tanpa benar-benar merasa hidup. Mungkin hal ini yang kita sebut sebagai kekosongan.

Yeom Mi Jeong

Dia juga sesulit itu untuk mengekspresikan perasaannya, sulit jujur tentang apa yang diinginkan, dan selalu terlihat seperti sedang bersandiwara menjadi “orang normal”. Dan itu adalah hal yang melelahkan. 

Aku suka banget gimana drama ini memperlihatkan kesepian Mi Jeong lewat hal-hal kecil. Seperti pas dibagian awal drama, ada teman kantornya bertanya kenapa dia nggak ikut club kantor sama sekali. Sekilas memang kelihatan seperti perhatian biasa, tapi pas Mi Jeong mulai menjelaskan alasan karena rumahnya jauh, orang itu bahkan nggak benar-benar mendengarkan jawabannya. Dan menurutku drama ini ingin menunjukkan sesuatu, kalau banyak hubungan sosial sebenarnya cuma untuk basa-basi aja bukan karena mereka benar-benar ingin tahu. Disini Mi Jeong sadar soal hal itu, makanya dia menjadi menahan diri untuk nggak mencurahkan lebih tentang dirinya. 

Ada detail kecil lain yang agak menyedihkan menurutku. Sebelum hubungannya dengan Mr. Gu berjalan dan bergabung dengan club pembebasan, Mijeong juga sering terlihat berimajinasi tentang seseorang yang mencintainya. Dia sesekali membayangkan percakapan di kepalanya sendiri karena cuma di sana dia bisa jujur dengan isi hatinya.  

Hubungan Mi Jeong dan teman-teman satu divisi di kantornya juga menarik kalau diperhatikan. Awalnya aku merasa hubungan mereka kelihatan normal-normal aja, karena menurutku teman-temannya memang tidak digambarkan jahat secara terang-terangan. 

Mereka tergabung dalam satu circle yang sering mengobrol, istirahat makan siang bersama dan saling bercanda. Hubungan seperti itu pasti terasa "dekat" kan.. Sampai pada scene yang akhirnya aku menyadari, saat teman-temannya pergi liburan tanpa mengajak Mi Jeong. Padahal sebelumnya mereka sempat membicarakan liburan itu di depannya, bahkan sempat bertanya dia mau pakai bikini warna apa. Tapi tiba-tiba tiket pesawat udah dibeli aja tanpa dirinya. 

Yeom Mi Jeong & teman-teman kantornya

Menurutku di scene itu bukan karena mereka itu membenci Mi Jeong. Tapi karena keberadaan Mi Jeong memang nggak terlalu dianggap penting. Aku memahami kenapa teman-temannya bisa bersikap seperti itu, bukan berarti aku mendukung ya. 

Aku lihat pola komunikasi Mi Jeong dengan teman-temannya cuma satu arah. Teman-temannya sering bertanya kepadanya, tapi Mi Jeong nggak pernah memberikan jawaban yang dianggap memuaskan kepada temannya. Dia juga nggak pernah terlihat bertanya balik atau penasaran dengan kehidupan mereka. Hal itu ya karena karakter Mi Jeong yang memang nggak gampang mengekspresikan diri, jadi mungkin teman-temannya menganggap dia seperti "ah kayaknya dia nggak bakal bisa ikut lagi", padahal belum tentu gitu. 

Dari scene ini aku jadi menyadari diri sendiri, kadang kita yang pendiam atau keliatan sulit untuk diajak itu malah makin jarang diajak ya? Sampai akhirnya benar-benar makin menjauh dari hubungan sosial itu. Dan kenyataan itu rasanya memang pahit.

Banyak pertemanan bukan cuma karena baik atau nggaknya, tapi karena merasa nyaman satu sama lain, gampang nyambung, energinya cocok dan gampang diajak. Sebagai seseorang yang karakter dan pengalamannya mirip Mi Jeong ini adalah sebuah kesadaran yang menyakitkan :') 

Next, di momen dan scene berbeda Mi Jeong ada berkata sesuatu seperti "manusia baru bisa waras saat kesepian" Awalnya kalimat itu kedengaran aneh. Karena sepanjang drama, Mi Jeong jelas menderita karena kesepian. Tapi setelah dipikir-pikir, mungkin yang dia maksud adalah saat sendirian, dia akhirnya nggak perlu bersandiwara. Karena sepanjang hari Mi Jeong harus bekerja, bersosialisasi, menjaga ekspresi, mengikuti aturan, dan berpura-pura baik-baik aja. Jadi pas suasana sepi seperti malam hari, menjadi satu-satunya waktu di mana dia bisa benar-benar menjadi dirinya sendiri.

Tapi ironisnya, terlalu lama sendirian juga membuatnya merasa kosong. Dan menurutku drama ini memang bagus banget memperlihatkan kontradiksi manusia dimana kita lelah dengan orang lain, tapi juga hancur saat benar-benar sendirian.

                                                         

“Pujalah Aku” dan Hubungan dengan Mr. Gu

Hubungan antara Yeom Mi Jeong dan Mr. Gu di drama ini bukan karena hubungan mereka paling romantis, tapi karena keduanya bertemu saat sama-sama sedang kehilangan arah hidup. Mi Jeong menjalani hidup dengan rasa kosong yang terus menumpuk, sedangkan Mr. Gu hidup sambil terus melarikan diri dari dirinya sendiri lewat alkohol.

Yang aku suka, drama ini nggak terburu-buru membuat hubungan mereka menjadi romantis. Awalnya mereka bahkan nyaris nggak banyak ngomong. Interaksi mereka cuma sebatas Mi Jeong mengantarkan makanan, Mr. Gu menerima tanpa banyak ekspresi, terus kayak ya udah..

Mi Jeong itu tertarik sama Mr. Gu bukan karena dia kelihatan keren atau misterius seperti tokoh drama pada umumnya. Tapi karena Mr. Gu terlihat seperti seseorang yang udah capek banget  dan nggak punya gairah sama hidupnya. Tapi mungkin karena itu Mi Jeong merasa relate dengannya. Bedanya, Mi Jeong menyembunyikan kehancurannya dengan menjadi pendiam dan menahan semuanya sendiri. Sedangkan Mr. Gu memperlihatkannya lewat kebiasaan mabuk dan cara hidupnya yang berantakan. Makanya pas Mi Jeong bilang,

Pujalah aku.

menurutku itu adalah kalimat paling jujur dari seseorang yang sudah terlalu lama merasa dirinya nggak berarti.

Mi Jeong & Mr. Gu

Mi Jeong nggak minta Mr. Gu buat sekedar jadi pacarnya. Dia cuma ingin ada seseorang yang benar-benar melihat dirinya, memperhatikan keberadaannya, dan membuat hidupnya terasa berarti. Karena sepanjang hidupnya, Mi Jeong selalu merasa dirinya cuma hidup sebagai orang biasa yang gampang dilupakan. Hal itu terlihat dari banyak hal kecil di hidupnya. Dari teman-teman kantor yang sebenarnya nggak terlalu menganggap dirinya penting, atasan yang suka nyari kesalahannya, keluarganya yang nggak benar-benar menjadi tempatnya bercerita, mantan pacarnya yang meninggalkan hutang atas namanya, sampai caranya terus menahan semua masalah sendirian. Makanya kata “puja” terasa jauh lebih dalam daripada “cinta”.

Menurutku memuja seseorang berarti melihat keberadaannya secara utuh, bahkan sampai ke bagian dirinya yang paling buruk dan paling menyedihkan. Dan itu yang terjadi pada hubungan Mi Jeong dan Mr. Gu.

Mi Jeong tahu Mr. Gu adalah pecandu alkohol. Dia tahu hidupnya berantakan. Dia tahu ada sesuatu dari masa lalu Mr. Gu yang sedang dia hindari. Tapi Mi Jeong nggak berusaha memaksa Mr. Gu berubah atau membuka semua rahasianya. Mi Jeong cuma tetap berada di dekatnya. Dan justru karena itu Mr. Gu perlahan berubah dengan sendirinya.

Ada satu bagian yang menurutku penting buat dikulik, pas botol-botol alkohol Mr. Gu dibersihkan orang lain tanpa izin. Chang Hee dan Du Hwan mungkin mengira mereka sedang membantu. Tapi Mr. Gu justru marah banget. Menurutku kemarahan itu bukan sekadar karena barangnya disentuh orang lain. Botol-botol itu seolah bukti seberapa hancurnya hidup yang sedang dia jalani. Dan saat orang lain membersihkannya, Mr. Gu merasa seluruh kehancurannya sedang dilihat secara terang-terangan.

Makanya dia sampai berkata tentang bagaimana rasanya jika ada orang lain membersihkan tai kita. Karena buat Mr. Gu, botol-botol itu memang sesuatu yang memalukan. Dan lagi-lagi Mi Jeong memahami itu tanpa perlu dijelaskan panjang lebar.

Hal lain yang menarik adalah pekerjaan Mr. Gu. Awalnya drama ini membuat Mr. Gu terlihat seperti pria desa biasa yang cuma bekerja serabutan dan menghabiskan waktu dengan minum alkohol. Tapi perlahan terungkap kalau dia sebenarnya punya kehidupan lain di Seoul dan terhubung dengan dunia club malam yang keras.

Mr. Gu

Dari yang aku tangkap, Mr. Gu kelihatannya punya posisi tinggi dan mengatur banyak hal di sana. Dia hidup di lingkungan yang penuh uang, kekuasaan, alkohol, dan orang-orang yang saling memanfaatkan satu sama lain. Makanya pas dia kembali ke Sanpo, hidupnya terasa seperti seseorang yang sedang kabur dari dirinya sendiri. Mr. Gu sebenarnya sangat membenci hidup yang sedang dia jalani. Tapi dia juga nggak tahu gimana cara keluar dari sana. Dia terus minum karena itu satu-satunya cara untuk membuat kepalanya diam.

Dan yang membuat hubungan mereka menyentuh adalah Mi Jeong nggak pernah melihat Mr. Gu sebagai “orang rusak”. Dia nggak takut pada masa lalunya. Bahkan setelah tahu sisi gelap kehidupannya.

Mi Jeong cuma melihat Mr. Gu sebagai seseorang yang lelah. Dan mungkin untuk pertama kalinya dalam hidup Mr. Gu, ada seseorang yang melihat dirinya seperti itu tanpa menghakimi.

Sedangkan untuk Mi Jeong sendiri, hubungan itu membuatnya perlahan merasa dirinya layak dicintai. Dia nggak lagi hidup di dalam imajinasinya sendiri tentang “seseorang” yang akan memahami dirinya. Karena sekarang orang itu benar-benar ada di depannya.

                          

Chang Hee dan Kemarahan Orang yang Merasa Tertinggal

Kalau Mi Jeong mewakili rasa kosong yang sunyi, maka Yeom Chang Hee mewakili rasa frustrasi orang dewasa yang merasa tertinggal dari hidup.

Dia bawel, gampang marah, suka ngeluh, dan sering terlihat iri dengan hidup orang lain. Tapi semakin lama aku perhatikan Chang Hee, aku sadar kalau semua itu sebenarnya berasal dari rasa insecure yang sangat besar.

Chang Hee

Dia selalu merasa hidup orang lain lebih gampang darinya. Hal itu terlihat jelas dari caranya membenci Areum. Awalnya terlihat seperti kebencian biasa. Tapi pas temannya berkata,

kalau dia bukan orang kaya, kamu mungkin tidak akan sebenci itu,

Chang Hee kelihatan tersentak. Karena sebenarnya dia sadar kalau rasa kesalnya bercampur dengan iri hati. Dia iri dengan orang-orang yang hidupnya lebih mudah, punya pilihan, dan bisa menikmati hidup tanpa terus merasa tertahan.

Makanya pas dipinjamkan mobil mewah sama Mr. Gu, Chang Hee langsung kelihatan bahagia banget. Dan menurutku scene itu lucu sekaligus sedih. Karena kebahagiaannya terasa sesederhana itu.

Buat orang lain mungkin itu cuma 'mobil minjem'. Tapi buat Chang Hee, itu kayak kesempatan untuk merasa dirinya berhasil. Chang Hee juga punya salah satu dialog seperti

Apakah aku memiliki tujuan? Apakah tidak boleh aku menjalani hidup meski tidak memiliki tujuan apapun? Aku tidak bisa memaksakan diri untuk hidup dan melakukan sesuatu yang tidak aku sukai

Kalimat itu benar-benar menggambarkan kelelahan menjadi orang dewasa. Karena dunia terus meminta manusia punya mimpi, punya tujuan, punya pencapaian, dan selalu berkembang. Padahal kadang seseorang cuma ingin hidup dengan tenang tanpa merasa gagal setiap hari.

                                                                   

Gi Jeong dan Ketakutan Menjadi Orang yang Tidak Dipilih

Dibanding Mi Jeong dan Chang Hee, menurutku Yeom Gi Jeong adalah karakter yang paling mudah terlihat emosinya. Dia blak-blakan, impulsif, suka mengeluh, dan sering terlihat terlalu obsessed dengan percintaan. Awalnya aku sempat merasa paling susah relate sama dia karena sebagian besar keresahannya berhubungan dengan hubungan romantis, pernikahan, dan standar sosial soal usia.

Tapi semakin lama aku menonton, aku sadar kalau sebenarnya Gi Jeong cuma merasa takut banget sendirian.

Gi Jeong

Menurutku Gi Jeong adalah gambaran seseorang yang merasa hidupnya berhenti bergerak karena nggak ada orang yang memilih dirinya. Dia hidup dengan standar keberhasilan hidup orang dewasa yang harus menikah, mempunyai pasangan dan kehidupan romantis.

Makanya dia menjadi sensitif banget soal umur dan hubungan. Bahkan sampai ada momen dia ngomong kalau dirinya mungkin harus mencintai sembarang orang aja. Kalimat itu terdengar lucu sekaligus menyedihkan. Karena di balik itu sebenarnya ada rasa putus asa.

Gi Jeong takut dirinya akan terus hidup sendirian dan perlahan “tertinggal” dari orang lain. Yang aku suka dari drama ini adalah mereka nggak membuat Gi Jeong terlihat memalukan karena desperate ingin dicintai. Drama ini justru memperlihatkan kalau kebutuhan untuk dicintai juga sama manusianya dengan kebutuhan lain. Karena pada akhirnya manusia memang ingin dipilih, dianggap spesial, dan punya seseorang yang tetap tinggal di sisinya.

Aku juga suka bagaimana hubungan Gi Jeong dengan Jo Tae Hoon, si pria duda beranak satu itu berkembang. Awalnya aku sempat mengira hubungannya dengan atasannya yang sering memberinya advice akan mengarah ke romance. Tapi ternyata nggak... 

Kadang ada ya orang yang dekat sama kita bukan untukjadi pacar, tapi cuma menjadi tempat kita didengarkan. Sedangkan dengan Tae Hoon, hubungan Gi Jeong rasanya jauh lebih tulus dan dewasa.

Sama halnya dengan Mi Jeong dan Mr. Gu, hubungan Gi Jeong dan Tae Hoon juga didasari perasaan kesepian mereka.

Yeom Gi Jeong & Jo Tae Hoon

Jo Tae Hoon bercerai dengan istrinya dan hidup sambil membawa rasa kehilangan. Sedangkan Gi Jeong hidup dengan rasa takut kalau dia nggak akan pernah benar-benar dicintai. Dan pada akhirnya mereka menjadi tempat bersandar satu sama lain.

Yang paling aku suka adalah bagaimana Tae Hoon memperlakukan Gi Jeong dengan tulus. Dia nggak membuat Gi Jeong merasa memalukan karena terlalu emosional atau terlalu banyak bicara. Bahkan saat Gi Jeong terlihat berlebihan, dia tetap mendengarkan dan memahami dirinya. Menurutku itu penting sekali untuk karakter kayak Gi Jeong.

Karena sepanjang hidupnya dia kelihatan seperti seseorang yang terus berusaha keras supaya dipilih orang lain. Tapi pas bersama Tae Hoon, rasanya untuk pertama kalinya dia nggak perlu terlalu memaksa dirinya lagi. Dan menurutku itu sebenarnya inti dari perjalanan Gi Jeong bukan tentang akhirnya punya pacar, tapi tentang akhirnya merasa dirinya layak dicintai.

                                                                     

Keluarga, Duka, dan Perasaan Tidak Pernah Benar-Benar Dipahami

Salah satu hal paling menyakitkan dari My Liberation Notes adalah bagaimana drama ini membahas keluarga. Karena keluarga Yeom sebenarnya bukan keluarga yang penuh konflik besar atau saling membenci. Mereka tetap makan bareng, tinggal serumah, mengurus ladang, bekerja membantu orang tua, dan menjalani hidup seperti keluarga biasa pada umumnya.

Ibu & Potret Keluarga Yeom

Mereka saling sayang, tapi nggak benar-benar tahu cara memahami satu sama lain. Dan menurutku itu terlihat jelas dari bagaimana ketiga bersaudara ini tumbuh menjadi orang yang memendam semuanya sendiri.

Mi Jeong misalnya. Dia menanggung masalah hutang mantan pacarnya sendirian sampai rela mengubah alamat surat penagihan supaya keluarganya nggak tahu. Itu bukan karena dia nggak percaya sama keluarganya, tapi karena dia terlalu takut dianggap menyedihkan dan gagal.

Ada kalimat Mi Jeong yang sangat membekas,

Aku merasa lebih muak melihat diriku yang terpuruk dan menyedihkan daripada nggak mendapatkan uang itu kembali.

Kalimat itu sakit banget karena memperlihatkan kalau rasa malu kadang lebih besar daripada masalah itu sendiri. Mi Jeong nggak paling takut kehilangan uangnya. Dia lebih takut dilihat sebagai seseorang yang nggak bisa mengurus hidupnya sendiri. 

Hal yang sama juga terlihat dari Chang Hee. Saat dia berhenti bekerja, yang paling dia takutkan bukan cuma soal masa depannya, tapi bagaimana reaksi ayahnya. Pertanyaan yang dia dapat justru seperti "terus bagaimana rencanamu kedepannya?" lalu "sampai kapan?"

Untuk yang pernah ada diposisi ini, hal-hal kayak gini justru bikin tambah down.. Banyak anak tumbuh dengan perasaan kalau mereka cuma boleh istirahat sebentar aja sebelum kembali dituntut buat jalan lagi.

Drama ini juga memperlihatkan bagaimana orang tua sering kali mencintai anaknya, tapi nggak benar-benar memahami isi hati mereka.

Ayah mereka terlihat keras, kolot, dan selalu ingin anak-anaknya punya arah hidup yang jelas. Dia ingin anak-anaknya hidup dengan benar, bekerja dengan baik, dan nggak menjadi orang malas. Tapi di sisi lain, tekanan itu justru membuat anak-anaknya semakin sulit terbuka.

Chang Hee jadi memendam rasa gagal dan insecure sendirian. Mi Jeong terbiasa menahan semua masalahnya sendiri. Sedangkan Gi Jeong hidup dengan ketakutan akan kesepian dan merasa tertinggal dari orang lain.

Menurutku keluarga ini nggak pernah benar-benar menjadi tempat mereka bersandar. Mereka tinggal bersama, tapi tetap kesepian. Dan semuanya makin terasa saat ibu mereka meninggal.

Bagian kehilangan ibu menurutku jadi titik paling emosional di drama ini. Menurutku drama ini memperlihatkan duka yang terasa real banget sama kehidupan asli.

Setelah ibunya meninggal, rumah mereka tetap sama. Sandal ibu masih ada, baju-bajunya, perabotan bekas masaknya yang belum sempat dicuci, dan semuanya terasa aneh karena dunia tetap berjalan seperti biasa. Menurutku itu bagian paling menyakitkan dari kehilangan.

Gambar Mi Jeong & Chang Hee berduka

Bukan cuma soal momen seseorang pergi, tapi bagaimana setelahnya hidup tetap memaksa kita untuk berjalan kayak nggak terjadi apa-apa. Kita tetap harus makan, kerja, bercakap-cakap dengan orang lain, dan kembali menjalani rutinitas. Padahal di dalam diri, rasanya masih nggak percaya kalau orang itu benar-benar udah nggak ada.

Hal lainnya adalah bagaimana drama ini memperlihatkan cara setiap anggota keluarga menghadapi duka dengan berbeda. Gi Jeong terlihat paling emosional dan paling sering menangis terang-terangan. Chang Hee yang jadi lebih overthingking dan "mencocoklogikan" segala hal yang terjadi dengan dirinya.  Sedangkan Mi Jeong justru terlihat paling tenang. Dan menurutku itu yang paling menyakitkan.

Drama ini juga memperlihatkan bagaimana kehilangan membuat seseorang mulai mengingat hal-hal yang selama ini dianggap biasa. Kehadiran ibu yang dulu terasa biasa tiba-tiba menjadi sesuatu yang sangat dirindukan. Suara memanggil dari dapur, makanan yang disiapkan, omelan kecil. Dan ironisnya, manusia sering baru menyadari nilai sebuah kehadiran setelah kehadiran itu hilang.

Menurutku itu alasan kenapa bagian keluarga di drama ini rasanya menyakitkan banget. Karena yang ditampilkan bukan cuma kesedihan karena kehilangan, tapi juga penyesalan, jarak emosional dalam keluarga, dan rasa sayang yang selama ini nggak pernah benar-benar diungkapkan.

Pada akhirnya keluarga Yeom tetap kelihatan cukup canggung satu sama lain. Mereka nggak tiba-tiba menjadi keluarga yang hangat dan pandai mengungkapkan perasaan. Tapi setelah kehilangan itu, mereka perlahan mulai lebih jujur tentang luka masing-masing. Dan mungkin itu bentuk “pembebasan” mereka juga. Bukan menjadi keluarga sempurna, tapi akhirnya mulai saling memahami rasa sakit satu sama lain yang selama ini dipendam sendirian.

Keluarga Yeom

                                                                          

Drama Tentang Orang-Orang yang Ingin “Bebas”

Menurutku pada akhirnya My Liberation Notes memang bukan sekadar drama tentang percintaan atau kehidupan orang dewasa. Drama ini adalah cerita tentang orang-orang yang diam-diam merasa lelah menjalani hidupnya sendiri dan ingin merasa “bebas”.

Dan karena itu, keberadaan “Club Pembebasan” jadi penting banget di drama ini. Awalnya club itu cuma terdiri dari Yeom Mi Jeong, Tae Hoon, dan Sang Min.

Mereka adalah rekan kerja beda divisi yang sama-sama nggak tertarik gabung club kantor mana pun. Dan itu udah menunjukkan kalau mereka memang punya rasa asing yang mirip sama lingkungan sosial di kantor mereka sendiri. Lucunya, pas club itu pertama dibuat mereka juga nggak benar-benar tahu mau melakukan apa wkwk.

Anggota Klub Pembebasan

Dan aku suka banget gimana club ini perlahan berubah menjadi tempat paling nyaman untuk mereka. Mereka juga untuk pertama kalinya bisa ngobrol tanpa perlu terlalu banyak bersandiwara.

Mereka mulai menulis jurnal, membahas rasa lelah, mengeluh soal hidup, sampai menceritakan hal-hal yang biasanya nggak pernah mereka ungkapkan ke orang lain. Menurutku itu salah satu hal paling manis di drama ini. Karena ternyata yang paling dibutuhkan orang-orang seperti mereka bukan solusi besar, tapi tempat untuk merasa didengar dan tidak dihakimi.

Dan yang aku suka lagi adalah bagaimana staf HR atau bagian konseling kantor? yang awalnya cuma memonitor club itu malah akhirnya ikut bergabung. 

Menurutku itu memperlihatkan kalau rasa lelah dan keinginan untuk “bebas” sebenarnya nggak cuma dimiliki tiga anggota awal club itu aja. Tapi semua orang diam-diam membawa rasa sesaknya masing-masing.

Drama ini juga nggak membuat para karakternya tiba-tiba sembuh atau hidup bahagia sepenuhnya. “Bebas” di drama ini bukan berarti semua masalah selesai. Karena sampai akhir drama pun mereka tetap punya luka, tetap punya ketakutan, dan hidup mereka nggak berubah sempurna. 

Salah satu perkembangan paling penting menurutku adalah bagaimana Mi Jeong akhirnya belajar menjaga dirinya sendiri. Setelah ditinggal Mr. Gu, kehilangan ibunya, muak dengan lingkungan kantornya, sampai kembali bertemu mantan pacarnya yang meninggalkan hutang, Mi Jeong justru mulai menemukan cara kecil untuk tetap bertahan hidup.

Dia mulai mencari “lima menit kebahagiaan dalam sehari.” Dan menurutku itu jadi bentuk “pembebasan” terbesar untuk dirinya. Karena sebelumnya Mi Jeong selalu hidup sambil menunggu sesuatu yang besar untuk membuat dirinya bahagia sambil dipenuhi rasa dendam. Tapi akhirnya dia sadar kalau hidup nggak selalu berubah secara drastis. Kadang manusia cuma perlu menemukan sedikit alasan supaya harinya tetap bisa dijalani.

Menurutku itu juga yang terjadi pada semua karakter di drama ini. Mereka nggak tiba-tiba menjadi orang sukses atau bahagia sepenuhnya. Tapi mereka mulai menemukan tempat untuk pulang, berdamai dengan diri sendiri, dan alasan kecil untuk tetap hidup besok pagi.

Dan itulah yang membuat drama ini terasa begitu membekas bagiku dan bagi banyak orang lain juga.

Karena diam-diam banyak dari kita juga sedang berusaha bebas dari rasa kosong, dari rasa gagal, dari kesepian, dari duka dan dari hidup yang terasa terlalu melelahkan untuk dijalani sendirian.

Dan ini salah satu kutipan monolog favoritku dari Yeom Mi Jeong, 

Aku tidak peduli ke mana aku akan pergi setelah mati. Aku ingin melihat surga selagi aku masih hidup



Aku Merasa Terlalu Dipahami oleh My Liberation Notes Aku Merasa Terlalu Dipahami oleh My Liberation Notes Reviewed by Puspita Murdani on Mei 23, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar

About