Review Film Pangku (2025): Perempuan Yang Selalu Menanggung Segalanya
![]() |
| Poster Film Pangku |
Akhirnya aku menonton salah satu film yang bisa dijadikan sebagian pembuka untuk review film di blog ini, Pangku.
Aku baru menonton ini ketika filmnya rilis di Netflix, jadi bukan saat masa penayang di bioskop November lalu. Saat itu aku hanya sekadar tau, filmya cukup viral dan dibicarakan dimana-mana. Aku juga jadi tau bahwa film ini merupakan debut film panjangnya Reza Rahadian sebagai sutradara. Dia memang sekeren itu ya hehe.
Sebelum kita bahas lebih dalam, dicek detail filmnya dulu!
Informasi Detail Film
- Judul:
Pangku
- Sutradara:
Reza Rahadian
- Durasi: 1 jam 43 menit
- Genre:
Drama / Slice of Life
- Produksi:
Gambar Gerak
- Penulis
Naskah: Reza Rahadian dan Felix K. Nesi
- Tanggal
Rilis: 6 November 2025 di bioskop Indonesia
- Platform: Netflix (masih tayang)
- Pemain: Claresta Taufan, Fedi Nuril, Christine Hakim, Devano Danendra, Shakeel Fauzi, Aisy, Muhammad Khan, Nazyra C. Noer, Jose Rizal Manua, Lukman Sardi, dan Djenar Maesa Ayu
Sinopsis
Pangku mengikuti kehidupan Tika, seorang perempuan yang
harus bertahan hidup di tengah kondisi ekonomi yang sulit sambil membesarkan
anaknya seorang diri. Ia kemudian bekerja di sebuah warung kopi, tempat para
pelanggan laki-laki bukan hanya datang untuk membeli kopi, tetapi juga mencari
kenyamanan fisik lewat layanan “pangku”.
Di balik kesehariannya yang terlihat sederhana, film ini perlahan memperlihatkan bagaimana tubuh, kesepian, kebutuhan ekonomi, dan relasi antara laki-laki dan perempuan saling bertabrakan dalam kehidupan Tika.
Film yang Lebih Mengandalkan Perasaan
Sejujurnya, setelah selesai menonton Pangku, hal pertama
yang paling membekas buatku bukan dari jalan ceritanya, tapi visualnya. Film
ini benar-benar punya sinematografi yang cantik. Setiap scene nya berganti seperti nggak ada yang gagal dari pengambilan gambarnya.
Dari detail penampilan tiap karakternya, angle kamera, warna-warnanya, semuanya kelihatan mateng banget. Dari sisi-sisi ini juga yang bikin film ini terasa emosional pas ditonton.
Film ini juga dialognya minim banget. Banyak momen-momen yang tanpa ada penjelasan panjang dan lebih mengandalkan gesture, suara sekitarnya atau suara hening untuk menyampaikan perasaan tiap karakternya. Tiap adegan juga terasa pelan tapi tetap memberi kesan hangat dan secara emosional itu indah sih buatku.
Jujur aja, ini tipe film yang mungkin nggak akan bikin semua orang betah. Pace nya termasuk pelan banget dan bukan tipe film yang punya konflik besar dan twist gitu. Jadi untuk yang lebih suka film sat-set dan pingin tiap adegannya seperti memberi sesuatu gitu, Pangku mungkin bakal terasa terlalu bertele-tele.
Semua Beban Akhirnya Tetap Ditanggung Perempuan
Kalau dilihat sekilas, cerita Pangku memang punya kesan sederhana. Konfliknya kecil, alurnya pelan, dan nggak banyak kejadian besar
yang benar-benar kayak bikin greget gitu. Tapi kalau nontonnya pakai perasaan atau pakai hati pasti sadar, di balik
kesederhanaannya itu film ini menyimpan isu sosial yang bisa dibilang pahit.
Yang paling menonjol dari kehidupan karakter utamanya, Tika. Kalau dilihat-lihat hidupnya menyedihkan banget. Dia hamil tanpa kejelasan sosok ayah anaknya, harus membesarkan anak, mencari pekerjaan dan luntang lantung, walau berakhir dengan bantuan "seorang ibu" yang seperti "rumah" untuk Tika. Tapi ironisnya adalah dia bekerja di warung kopi sambil menjadi “pelayan pangku” untuk laki-laki yang datang membeli kopi.
Di film ini, laki-laki datang membawa kesepian, kebutuhan emosional, atau hasrat mereka masing-masing. Tapi akibat terbesar tetap ditanggung oleh Tika. Dan menurutku, itu yang paling pahit dari film ini. Bahkan sosok laki-laki yang awalnya terlihat paling baik pun ternyata tetap menyimpan ego dan kebutuhannya sendiri.
Film ini memang nggak ada adegan kekerasan besar atau paksaan yang kelihatan eksplisit.
Semua terlihat seperti sesuatu yang “normal” dan dilakukan atas consent
masing-masing. Tapi justru itu yang membuat situasi seperti ini itu rumit dan kita cuma bisa merasa miris.
Tika memang kelihatan setuju melakukan pekerjaannya. Tapi di
sisi lain, apakah dia benar-benar punya kebebasan buat memilih ketika kondisi
ekonominya memaksanya bertahan hidup dengan cara seperti itu?
Menurutku, Pangku cukup berhasil memperlihatkan bagaimana
tubuh perempuan perlahan bisa berubah menjadi bagian dari transaksi sosial dan
ekonomi tanpa harus menunjukkannya secara vulgar.
Dan yang bikin sedih, film ini terasa seperti memperlihatkan
bagaimana situasi seperti itu sudah dianggap biasa dalam kehidupan sehari-hari.
![]() |
| Scene film Pangku, ketika Tika kembali menjadi "pelayan pangku" kopi setelah dikhianati |
Sosok “Mas Ikan” yang Ternyata Tidak Sepenuhnya Berbeda
Awalnya aku sempat mengira karakter laki-laki yang sering
datang membawa ikan itu akan jadi sosok yang berbeda dibanding pelanggan
lainnya. Karena dia terlihat lebih lembut, lebih perhatian, dan tidak
terang-terangan memperlakukan Tika seperti objek seksual.
Dia juga nggak terlihat meminta Tika melakukan hal yang sama
seperti pembeli kopi lain. Makanya, sebagai penonton, aku sempat merasa mungkin
dia benar-benar tulus.
Tapi semakin lama, aku merasa sebenarnya dia tetap tidak jauh berbeda. Bedanya cuma pendekatannya memang lebih halus.
Menurutku dia datang bukan benar-benar untuk memahami kehidupan Tika,
tapi karena dia juga kesepian dan membutuhkan tempat pelarian emosional. Sikapnya yang kelihatan greenflag, pelan-pelan terasa seperti cara untuk membuat Tika nyaman dan
akhirnya bergantung secara emosional ke dia.
Dan pada akhirnya, setelah Tika mulai membuka diri, ternyata
laki-laki itu tetap membawa masalah lain. Dia ternyata masih punya istri yang bekerja
sebagai TKW di Arab Saudi.
Di situ aku merasa Pangku seperti ingin menunjukkan bahwa perempuan sering kali menjadi tempat pelampiasan kesepian laki-laki, sementara perempuan itu sendiri tetap harus menanggung dampaknya sendirian.
Reviewed by Puspita Murdani
on
Mei 08, 2026
Rating:


Tidak ada komentar